Internasioanl

now browsing by category

 

Menang Telak, Putin Jadi Presiden Rusia Lagi Untuk Keempat Kali

Di usianya yang menginjak 65 tahun, Presiden Vladimir Vladimirovich Putin sepertinya masih begitu dicintai rakyat Rusia. Dalam Pilpres pada 18 Maret 2018 lalu, Putin dengan mantap melenggang jadi Presiden kembali. Melawan tujuh calon Presiden lain, Putin keluar sebagai pemenang dengan kemenangan mutlak yakni mencapai 75% suara. Terpilihnya kembali Putin ini memang sudah diperkirakan sehingga membuatnya akan memimpin Rusia hingga enam tahun ke depan.

 

Bahkan bisa dibilang kepercayaan rakyat Rusia makin besar karena pada Pilpres 2012 Putin cuma meraih 64% suara. Meskipun Rusia saat ini terancam akan terisolasi karena sanksi baru Amerika Serikat dan upaya pembunuhan mantan agen mereka di Inggris dengan gas syaraf yakni Sergei Skripal (66) dan putrinya Yulia (33), tampaknya warga Rusia pada umumnya masih yakin jika Putin adalah pemimpin yang tepat.

 

Pelantikan Putin sendiri sudah dilakukan di istana Kremlin, Moskow pada hari Senin (7/5) kemarin. Digelar cukup sederhana dibandingkan pelantikannya tahun 2012, Putin berjumpa dengan para sukarelawan yang membuatnya menang telak di Pilpres 2018. Putin kini melangkah sebagai Presiden yang akan memimpin Rusia selama 24 tahun. Membuatnya jadi pemimpin bandar togel online terlama setelah diktator Soviet, Joseph Stalin yang berkuasa selama hampir 30 tahun.

 

Bicara soal kehidupan seorang Putin, dirinya bergabung ke KGB (Badan Intelijen Uni Soviet) setelah lulus dari Universitas Negeri Leningrad, dan menghabiskan 17 tahun hidupnya sebagai mata-mata di luar negeri. Saat masa transisi Uni Soviet, Putin mundur dari KGB dan mudik tahun 1991 ke Leningran atau yang saat ini bernama St Petersburg. Tahun 1996, Putin pindah ke Moskow dan jadi kepala FSB, dinas rahasia pengganti KGB. Presiden Boris Yeltsin yang terkesan dengan loyalitasnya menunjuk Putin sebagai Perdana Menteri Rusia pada 1999. Yeltsin tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya dan menunjuk Putin yang disempurnakan dengan kemenangannya pada Pilpres 2000.

 

1.600 Pendemo Anti-Putin Ditangkap, 11 Jenderal Dipecat

 

Meskipun menang telak, ada saja kelompok yang ternyata Anti-Putin. Dan pada Minggu (6/5) kemarin, sekitar 1.600 demonstan tolak Putin ditahan kepolisian Rusia dengan salah satu di antaranya adalah Alexei Navalny, pemimpin oposisi Rusia. Navalny memang dilarang ikut dalam Pilpres 2018 karena dianggap melakukan kecurangan. Navalny pun menggagas demo besar-besaran secara nasional anti-Kremlin yang berlangsung hingga 26 kota termasuk kawasan Timur Jauh dan Siberia, seperti dilansir CNN.

 

Navalny sendiri menilai tudingan kejahatan finansial yang dia lakukan adalah rekayasa belaka karena dialah oposisi Putin yang paling cerewet. Sementara itu setelah resmi terpilih jadi Presiden Rusia, Putin dilaporkan memecat 11 orang Jenderal tanpa menyebutkan alasannya. Jika menurut UU Rusia, ini adalah masa jabatan terakhir Putin karena seorang pemimpin Rusia maksimal bisa memimpin selama empat periode.

 

AS Siap-Siap Hadapi Rusia

 

Usai Putin kembali terpilih, Amerika Serikat sepertinya tak mau diam saja. Punya hubungan tidak baik, AS bahkan dilaporkan membangkitkan kembali armada Perang Dingin mereka di Samudera Atlantik yang sempat dibekukan sejak 2011. Bangkitnya armada kedua (US 2nd Fleet) ini memang untuk berpatroli di kawasan Atlantik utara demi mengatasi ancaman Rusia.

Sebelum dibekukan dengan alasan penghematan anggaran, 2nd Fleet berperan penting saat Perang Dingin. Seperti dilansir USNI News, 2nd Fleet dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Juli 2018 dengan kekuatan awal 256 orang.