Apa Plus Minus Terapi Plasma Darah untuk Obati Pasien Corona

Pandemic virus Corona masih saja berlangsung sampai saat ini. dan Sayangnya belum ada negara termasuk Indonesia yang mampu menciptakan vaksin untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus SARS CoV-2  ini. 

Terapi Plasma Darah untuk Obati Pasien? 

Di tengah menanti kehadiran vaksin, sejumlah negara diketahui sudah menggunakan terapi plasma darah atau yang dikenal dengan konvalesen dan sebagai langkah sementara untuk menyembuhkan atau membantu penyembuhan orang sakit ataupun sekarat akibat virus Corona. melansir dari CNN Indonesia,  terapi  plasma darah konvalesen  sendiri sudah dipakai oleh dunia medis selama seabad tersebut dilakukan dengan menyebar dari pasien yang sembuh dari COVID-19 dan memasukkannya kembali ke orang yang sakit. 

Salah seorang yang mempelajari tentang terapi plasma darah konvalesen yang bernama Elliott Bannet-Guerrero  mengatakan, “ saya menganggapnya sebagai jembatan, sampai kita bisa mengembangkan vaksin yang dapat terbukti aman dan juga efektif dan bisa diproduksi dalam jumlah massal.”  itulah yang disampaikannya pada pasien Ca feed di Stony Brook Medicine. 

Bennett-Guerrerosendiri mengatakan bahwa darah indotogel dari seseorang yang sembuh dari infeksi virus Corona baru kaya dengan antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuhnya. Sehingga, Tia berkata bahwa pemberian plasma darah yang diresapi antibodi pada orang yang baru sakit yang mungkin belum memiliki antibodi diharapkan bisa membantu penyembuhan menjadi jauh lebih cepat. Bennett-Guerrero  juga berkata bahwa plasma darah konvalesen ini bisa meningkatkan kemampuan tubuh yang luar bisaa untuk mengembangkan antibodi dan juga Kekebalan terhadap patogen. 

“Kami mentransfer faktor-faktor pelindung itu lewat darah kepada orang-orang yang sakit dan belum mampu meningkatkan kekebalan tubuhnya,” ungkapnya lagi. 

Sebenarnya terapi plasma darah konvalesen  ini diketahui telah digunakan sebagai pengobatan jauh-jauh hari bahkan sejak tahun 1890-an. Pada saat itu ketika darah dari korban sembuh diberikan pada pasien Difteri.  selama pandemi flu tahun 1918 juga menunjukkan bahwa terapi plasma darah tersebut adalah pengobatan yang efektif. bahkan mengelola  puluhan penyakit pada abad itu misalnya saja cacar air dan juga campak. 

Masih Jadi Pilihan Terakhir Pengobatan Pasien Virus Corona

Data awal pada segelintir pasien di Cina menunjukkan bahwa mereka menjadi lebih baik sesudah menerima impuls plasma darah dari pasien yang sembuh. Akan tetapi data tersebut masih belum cukup untuk mengatakan bahwa plasma darah berhasil mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona dengan pasti.  para peneliti di Amerika Serikat menjalankan studi terkontrol untuk melihat apakah pasien yang menerima plasma darah meningkat lebih cepat dari pada pasien yang tidak.  Direktur Medis di Pusat Medis Universitas Nebraska Scott Koepsell  berkata bahwa transfusi plasma darah masih merupakan pilihan terakhir pengobatan virus Corona. 

“Ini adalah teknik lama. Sebenarnya adalah pendekatan yang bermaksud baik tetapi memiliki banyak variabilitas dan juga keterbatasan,” ungkap Koepsell yang sudah mengumpulkan plasma darah dari para pencinta virus Ebolla.  Ia juga mencontohkan setiap orang yang sembuh dari infeksi bakal memiliki campuran zat kekebalan yang sedikit berbeda dalam plasma darah mereka sehingga setiap orang yang sakit yang diobati dengan plasma darah mendapat perawatan yang sedikit berbeda  juga. 

Bagian tersebut bisa membuat para peneliti sangat sulit untuk mengetahui apakah terapi plasma darah ini umumnya efektif atau tidak.  Terapi  juga Tergantung pada apakah pasien mendapatkan batch plasma yang benar-benar baik atau yang buruk. Peneliti medis sekarang ini sedang mencoba untuk mengatasi masalah tersebut dengan hanya memungkinkan para penyintas dengan tingkat antibodi yang tinggi untuk mengembangkan plasma darahnya namun plasma darah masih akan bervariasi dari donor. 




Comments are Closed