March, 2018

now browsing by month

 

Tidak Laku dilihat di TV, Tarif Iklan Oscar Justru Naik

Ajang penganugrahan bergengsi Piala Oscar 2018 yang digelar pada hari Minggu (4/3) malam bertempat di Dolby Theatre, Los Angeles bisa dikatakan penuh sekali dengan gimmick. Bagaimana tidak, ajang bergengsi ini dimulai dengan hadiah jet ski untuk pemberi pidato kemenangan Bermain togel online yang paling singkat, juga ada bagi-bagi cemilan, sampai dengan sindiran tentang kesetaraan gender dan juga adanya pelecehan seksual.

Akan tetapi ajang penghargaan paling tinggi di bidang perfilman yang mana berjalan sangat mulus tanpa adanya tragedy salah baca Film Terbaik meskipun pengumumannya masih juga dipresentasikan oleh Faye Dunaway dan Warren Beatty tersebut masih bisa dibilang mendapatkan penonton yang sedikit seklai.

Sudah Gimmick, Tapi Tak Laku Juga

Data yang dilansir dari CNN Indonesia dan diambil dari Nielsen bahkan mencatat bahwasanya Oscar 2018 tersebut ditayangkan secara resmi di ABC merupakan acara dengan penonton TV yang paling rendah sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Dan menurut data yang diungkapkan stasiun TV ABC, Cuma ada sekitar 26,5 juta penonton di AS yang pasalnya menyaksikan gelaran berdurasi kurang lebih4 jam tersebut secara langsung. Jumlah tersebut dikatakan semakin menurun dari tahun ke tahunnya seperti diberitakan oleh Reuters.

Tahun lalu misalnya, jumlah penonton Oscar 2017 sendiri mencapai 32,9 juta orang. Itu adalah jumlah yang terendah dalam 9 tahun terakhir setelah Oscar mendapatkan hanya 32 juta penonton saja pada tahun 2008. Ternyata penonton di tahun 2018 ini justru lebih rendah dari jumlah itu. akan tetapi angka tersebut tidak bisa dijadikan sebuah patokan 100%.

Mengapa? Karena data yang dikumpulkan oleh Neilsen ini hanya untuk penonton TV konvensional, tak menghitung mereka mereka yang menonton TV secara digital atau streaming dan mobile.

Harga Iklannya Meroket

Meski demikian, harga iklan untuk acara live Oscar ini malahan meroket apabila dibandingkan tahun lalu. mengutip dari CNN Indonesia juga, itu disebabkan pengiklan percaya bahwasanya mereka yang menonton TV secara konvensional lebih cenderung untuk menyaksikan iklan daripada menontonnya dengan cara digital.

Ada salah satu sumber dari ABC yang terpercaya dan juga kapabel yang menyebutkan bahwa ruang iklan untuk acara live Oscar bahkan terjual penuh. Harga yang mana ditawarkan juga rata-rata US $2,6 juta atau setara dengan Rp. 35 milyar untuk iklan sepanjang 30 detik.  Fantastis!

Tahun lalu berbeda. Pasalnya untuk harga iklannya tahun lalu hanya US $1,9 juta atau setara dengan 26,2 Milyar saja untuk per 30 detiknya. Dan menurut data perusahaan riset Kantar Media yang dilansir dari CNN Indonesia, ABC bisa mendapatkan US $128 juta atau setara dengan Rp. 18,7 triliun tahun lalu dari penyiaran live Piala Oscar 2017. Mereka juga mendapatkan hak siar atas acara tersebut sampai dengan tahun 2028 mendatang.

Tak hanya Oscar yang memiliki penonton TV secara konvensional yang sedikit tahun ini. ada acara atau ajang penghargaan yang juga mendapatkan penonton tidak banyak tahun ini. ajang tersebut adalah Grammy Awards. Ajang bergengsi itu hanya disaksikan oleh 26.1 juta penonton saja di Januari 2018 lalu.sayangnya, itu juga angka terendah sejak tahun 2006 silam. Penonton Super Bowl yang mana tayang pada bulan Februari lalu juga menurun sebanyak 7% apabila dibandingkan dengan tahun lalu. jadi Oscar bukanlah satu-satunya ajang yang disaksikan oleh penonton yang makin hari makin sedikit saja.

Los Angeles Tetapkan 27 Februari Sebagai Hari Coco

Anggota Dewan kota Los Angeles yakni Gil Cedilo sudah mendeklarasikan hari Selasa (27/2) kemarin menjadi ‘Hari Coco di LA’. Darla K. Anderson, produser dari film Coco ini, serta Lee Unkrich, sang sutradara serta pemain film animasi Coco pasalnya akan menghadiri upacara deklarasi itu dilansir dari CNN Indonesia.

Sebuah band juga dikabarkan akan menampilkan 2 buah lagu hit yang muncul di film Coco ini yakni Remember Me dan Un Poco Loco.

Kisah Inspiratif dan Menyentuh Coco

Coco sendiri berkisah tentang petualangan bocah berumur 12 tahun bernama Miguel Rivera yang mana secara tidak sengaja berpindah ke dunia arwah pada momen Hari Orang Mati yang dirayakan di Meksiko dan akhirnya menemukan identitas leluhurnya.

Dalam kisah Coco, Miguel selalu memiliki keinginan untuk menjadi musisi dan menggunakan gitar tradisional Meksiko.

Baik dari sisi komersil maupun penilaian kritikus, film Coco ini bisa dikatakan sangat sukses. Film yang mampu menuai banyak pujian ini juga mendapatkan keuntungan yang sangat banyak yakni sebesar US $500 juta dari seluruh dunia menurut data yang didapatkan dari CNN Indonesia yang melansir dari Box Office Mojo.

Coco ini juga tercatat sebagai film yang hadir dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah industri perfilman Meksiko. Tidak hanya itu, Coco juga membuat popularitas besar dari desa Paracho yang mana menjadi sentro produksi gitar tradisional yang ada di Meksiko juga langsung meroket.

Film animasi yang digarap oleh Pixar dan juga Disney ini juga suda memenangkan beberapa kategori film MGMPoker Terbaik Animasi dalam ajang Golden Globe 2018 yang berlangsung pada bulan lalu tepatnya 7 Januari 2018 waktu Los Angeles.

Dongkrak Popularitas Gitar Tradisional Meksiko

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, film Coco ini bisa mendongkrak popularitas dari gitar tradisional yang dibuat di Meksiko. Desa kecil yang ada di pedalaman Meksiko lah yang terkena dampak kesuksesan dari film ini yakni Desa Paracho yang mendadak menjadi sangat terkenal.

Diberitakan juga oleh CNN Indonesia, Desa Paracho ini merupakan desa sentra yang memproduksi gitar tradisional Meksiko yang mana digunakan dalam film Coco yang digarap oleh Lee Unkrich ini. Desa ini lokasinya ada di pedalaman dataran tinggi Sierra Madre dan juga desa itu tidak pernah mendapatkan sorotan dunia sebelum film Coco ini tayang. Akan tetapi setelah film ini ayang, desa ini makin terkenal.

Miguel menjadi tokoh utama dalam film ini di mana ia menggunakan gitar tradisional Meksiko yang dihasilkan oleh Desa Paracho ini. desa ini berpenduduk hanya 30.000 orang saja dan telah menjadikan produksi gitar tersebut sebagai mata pencaharian yang utama sejak berabad-abad yang lalu.

Konon katanya, seorang pendeta yang datang dengan penakluk Spanyol dulu ala memutuskan untuk mengajarkan penduduk asli desa itu untuk menyokong kehidupan ekonomi mereka. dan setelah berabad-abad berlalu, Paracho ini kemudian terkenal dengan sentra produksi gitar tradisional Meksiko.

Akan tetapi para pengrajin setempat mengaku bahwa kesuksesan Miguel menjadi tokoh utama dalam film ini di mana ia mengguna membawa popularitas desa ini bisa melintasi berbagai negara dan benua.

Gitar yang dibuat oleh seniman Paracho ini pasalnya dihargai dengan mulai dari 200 peso atau setara dengan Rp. 1,3 juta sampai lebih dari 20.000 peso atau setara dengan Rp. 14 juta yang mana dibuat dengan kayu khusus.