Sean Gelael Jadi Pebalap Indonesia Kedua di Ajang F1?

Kiprah pebalap muda Indonesia, Sean Gelael, untuk bisa melaju di ajang balap paling bergengsi di dunia, Formula 1 (F1) sepertinya tak hanya mimpi semata. Bahkan pemuda berusia 21 tahun itu memiliki kemungkinan berbuat jauh lebih baik daripada seniornya, Rio Haryanto. Sean memang tercatat sudah pernah mencicipi keseruan melaju di lintasan F1 saat jadi pebalap di empat sesi latihan bebas I musim 2017 di Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan Meksiko.

 

Dengan statusnya sebagai pebalap tes tim Toro Rosso, Sean pun diberi kesempatan melaju di Bahrain, Hungaria dan Uni Emirat Arab. Tak heran kalau akhirnya mahasiswa Universitas Bath di Inggris itu digadang-gadang mampu berkiprah di level F1 karena sudah membuat Toro Rosso terpikat. Bahkan di musim 2018 ini, Sean menjadi bagian tim kuat F2, Prema Racing, yang semakin membuat impiannya bisa jadi pebalap F1 terwujud. Hanya saja rupanya putri aktris senior Rini S Bono itu diminta untuk tidak memikirkan F1 dan lebih fokus pada kariernya di Prema.

 

“Ini bukan berarti dia langsung terhubung ke program pengembangan pebalap Red Bull, dia terikat dengan Toro Rosso. Sekarang kita lihat saja apa yang bakal terjadi, tapi saya melihat dia bisa ikut beberapa sesi FP1 bersama kami lagi. Tapi kita mesti bersabar karena dia butuh konsentrasi penuh di F2,” ungkap Franz Tost selaku Tim Prinsipal kepada Detiksport.

 

Sang Ayah Sebut Sean Akan Terjun ke F1 di 2019

 

Banyaknya dukungan agar Sean bisa melaju di kelas F1 pun ditanggapi positif oleh Ricardo Gelael, ayah kandung Sean. Putra kandung konglomerat Dick Gelael sang pemilik PT Fast Food Indonesia yang menaungi ribuan outlet waralaba KFC di Indonesia itu pun angkat bicara. Hanya saja menurut Ricardo, Sean saat ini sedang fokus di ajang F2. Apalagi bersama Prema, Sean sukses selalu finish di dua besar klasemen konstruktor dan meraih juara dunia dalam dua musim terakhi.

 

Menjadi tahun ketiganya berlaga di F2, publik pun mulai mendesak Sean bisa mengikuti jejak Rio, Hanya saja rupanya Ricardo tak mau buru-buru dan malah meminta publik menilai permainan sang putra. Karena menurut Ricardo, kelemahan Sean memang tidak bisa tampil konsisten di kualifikasi. “Pokoknya kalau kita sih lebih cepat lebih bagus. Kalau hasilnya bagus, terakhir sih bagus jadi kita lihat proses aja.”

 

Nasib Sean dan Rio Sangat Berbeda

 

Bicara soal prestasi, Sean memang harus mengakui kalau Rio jauh lebih hebat. Karena Rio sudah berhasil melaju di lintasan F1 lewat tim Manor Racing meskipun akhirnya harus mengundurkan diri di tengah musim karena kekurangan dana. Saat itu Rio diharuskan membayar 15 juta euro yang hanya mampu terbayarkan setengahnya sehingga membuat status Rio sebagai pebalap result hongkong utama Manor digantikan oleh Sebastian Ocon.

 

Tak banyak yang tahu kalau Sean dan Rio memiliki kemiripan yakni sama-sama cucu dari seorang konglomerat kaya raya. Untuk Rio, dia adalah putra dari Sinyo Haryanto, perusahaan yang memproduksi buku tulis dan kertas dengan merk KIKY. Sementara Sean jauh lebih bergelimang rupiah karena kakeknya adalah pemilik hak waralaba KFC di Indonesia. Sehingga secara logis, pundi-pundi keuangan Sean akan jauh lebih kuat daripada Rio. Hanya saja pertanyaannya, apakah Sean mampu berbicara banyak di ajang F1 nanti?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *